Ancaman Teror Nuklir Global Dan Dampaknya Terhadap Indonesia Oleh INSAN ANSHARI AL ASPARY

92
views

 

 

HM. INSAN ANSHARI AL ASPARY

Alumni Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia

 

 

ANCAMAN TEROR NUKLIR GLOBAL DAN  DAMPAKNYA TERHADAP INDONESIA

“an act of nuclear terrorism would push millions into poverty, creating a second death toll in the developing world”

Kofi Annan, Former Secreteray-General of the United Nations. 

Bagi para pengamat sejarah maupun sebagian masyarakat internasional tentu masih teringat jelas bencana nuklir tanggal 26 April 1986 yang terjadi di kota pripyat, Chernobyl, Ukraina. Meledaknya reaktor No. 4 pembangkit listrik tenaga nuklir yang disebabkan oleh faktor “human error” berakibat kematian mengerikan bagi para pekerja di instansi tersebut dan memaksa ribuan penduduk meninggalkan kotanya. Beberapa dekade berlalu, bencana nuklir kembali terjadi pada tahun 2011 di kota Fukushima Jepang setelah reaktor nuklir meledak yang disebabkan oleh gempa dan tsunami sehingga meracuni langit kota dengan zat radioaktif. Bencana nuklir entah disebabkan oleh faktor kelalaian manusia maupun gejala alam ataupun penggabungan keduanya sungguh berakibat mengerikan. Indikasi baru-pun mulai menguak ketika bencana nuklir disebabkan oleh serangan teroris ataupun kelompok teror.

Aksi Teror Di Era Global

Permulaan tahun 2016 baik itu dalam skala nasional terlebih global banyak diwarnai oleh tindak atau kekerasan oleh beberapa individu maupun kelompok tertentu. Potensi pemicu aksi-aksi kekerasan yang terjadi disebabkan oleh “efek domino” maupun situasi internal negara bersangkutan. Efek domino dalam artian semenjak meledaknya “arab spring”  di beberapa negara timur tengah telah muncul beberapa kelompok teror baru setelah Al-Qaidah, seperti negara islam irak dan suriah atau dikenal sebagai ISIS. Efek domino ini memunculkan pula kelompok-kelompok terror baru di Afrika, seperti kelompok Boko Haram di Nigeria yang dikenal kesadisannya.

Faktor internal negara pun turut menstimulus munculnya aksi-aksi teror yang membahayakan keamanan warga negara. Faktor internal tentang lemahnya peringatan atau deteksi dini, peredaran senjata gelap, berkembangnya idelogi radikal menjadi biang keladi terjadinya aksi terror. Semua orang mengetahui peledakan bom sarinah diawal tahun 2016 yang menghentakkan warga ibu kota Jakarta dimana peristiwa ini seakan mengingatkan memori lama peledakan terakhir kali di Hotel JW Marriot tahun 2009 yang pelakunya merupakan jaringan organisasi teroris internasional. Tidak hanya Indonesia, Perancis pun dibuat histeris ketika meledaknya sebuah bom di sebuah acara festival musik menewaskan 128 orang dan melukai 180 lainnya dimana pelakunya ternyata seorang migran yang terkait jaringan ISIS.

Peristiwa-peristiwa teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu semakin canggih modus operandinya dan menargetkan objek-objek tertentu. Fakta tak terbantah jika serangan terror yang sistematis, canggih dan berdampak korban jiwa masif masih dipuncaki tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat yang melibatkan pembajakan terhadap sejumlah pesawat komersil oleh kelompok militan Al-Qaidah. Akan tetapi, bukanlah imajinasi ataupun hendaknya hanya kemungkinan jika kelompok atau organisasi teror mulai menargetkan sesuatu yang tidak biasa yaitu fasilitas nuklir yang terdapat disebagian kecil negara. Betapa sungguh tidak terbayangkan konsekuensi yang ditimbulkan.

Bentuk Aksi Teror Fasilitas Nuklir

Potensi serangan teror ke instalasi nuklir yang bertujuan sipil maupun militer telah dikemukakan oleh Hu Zhang. Beliau dalam karangannya “Reducing the Danger of Nuclear Terrorism in China” menguraikan beberapa macam bentuk potensi serangan terror terhadap instalasi nuklir. Serangan yang dimaksud seperti pencurian/perampasan/peledakan senjata nuklir, pencurian/penyelundupan material nuklir dan tindakan sabotase fasilitas nuklir. Potensi serangan perlu untuk diperhatikan dan diantisipasi utamanya bagi negara-negara berkekuatan nuklir maupun negara yang tidak berkekuatan nuklir.

Potensi serangan pertama yaitu pencurian/perampasan/peledakan senjata nuklir. Meskipun sangat konevensional, oleh para ahli cukup membuat khawatir. Fenomena ini pernah menjadi buah bibir dunia internasional di akhir tahun 1980-an ketika di negara-negara bekas pecahan Soviet Russia dikabarkan beberapa bom nuklir-nya telah hilang atau dicuri oleh pihak-pihak tertentu. Hal ini cukup mengejutkan karena umumnya fasilitas nuklir termonitor ketat dan dijaga oleh sepasukan khusus bersenjata lengkap. Selain itu, fasilitas nuklir berada di lokasi pegunungan yang dijaga kerahasiaannya dan sangat sulit diakses oleh orang luar. Semenjak serangan 11/9, sejumlah negara telah memodernisasi manajemen, regulasi atau pengaturan terkait pengelolaan fasilitas nuklir baik yang bertujuan militer maupun sipil.

Potensi kedua yaitu pencurian dan penyelundupan material nuklir. Para ahli berpendapat kalau pelaku teror mampu untuk memperoleh material nuklir dengan cara penyelundupan, pencurian, pembelian atau dengan cara-cara lainnya. Baru-baru ini aktivitas penyelundupan berhasil diungkap oleh intelijen Rusia bersama intelijen Moldova yang menemukan material nuklir beredar di pasar gelap dan terkait dengan kelompok radikal.  Material yang didapatkan kemudian dikombinasikan dengan pengetahuan yang dimiliki sehingga para pelaku terror mampu membuat bom berkadar nuklir dan meledakkannya. Potensi kedua ini dianggap sulit untuk terealisasi mengingat penguasaan tentang manufaktur, distribusi dan peledakan senjata hanya dimiliki oleh ahli tertentu. Ketatnya pengamanan pengolahan material nuklir dan intelijen semakin meminimkan aksi penyelundupan material yang dibutuhkan oleh pelaku terror.

Potensi ketiga adalah sabosate fasilitas nuklir. Negara-negara berkekuatan nuklir sangat khawatir dengan potensi ini terutama pasca insiden nuklir Fusuhima tahun 2011 di Jepang. Terdengar kabar kalau fasilitas nuklir di Oak Ridge, Tennese, Amerika Serikat telah disabotase walaupun dalam skala yang sangat kecil yaitu hanya memotong kawat pagar, memecahkan dinding dan membuat graffiti ditembok fasilitas. Di China sendiri reaktor nuklir yang dioperasikan berjumlah sekitar 20 unit dengan total kapasitas 16 GWe dan diproyeksikan meningkat menjadi 58 GWe pada tahun 2020. Sabotase yang sangat dikhawatirkan adalah penyerangan ke supply daya ke mesin reaktor dimana resiko ini diuraikan jelas dalam “Management of Nuclear and Radiological Terrorism Incidents”.

 

Motivasi Aksi Teror Fasilitas Nuklir dan Improvisasi Tindakan Pencegahan Aksi Teror

Serangan ke fasilitas nuklir oleh pelaku teror memiliki sejumlah motivasi tertentu. Terdapat lima motivasi yang mengakibatkan terjadinya serangan teror ke fasilitas reaktor nuklir. Motivasi pertama yaitu penyerangan ke bangunan reaktor nuklir dengan tujuan menyebabkan lepasnya material radioaktif berskala besar, sehingga menimbulkan dampak korban jiwa dan kerusakan lingkungan yang dahsyat. Motivasi kedua pencurian material nuklir sehingga menimbulkan kepanikan terhadap publik atau masyarakat. Motivasi ketiga berupa serangan terhadap fasilitas sekunder sehingga terganggunya fungsi reaktor yang demikian menimbulkan efek serius bagi ekonomi maupun psikologis. Motivasi keempat dalam bentuk serangan terhadap pusat saluran tenaga ke reaktor yang menghasilkan akibat buruk bagi kegiatan ekonomi maupun kondisi psikologis masyarakat. Terakhir, serangan terhadap para pekerja utamanya di fasilitas nuklir sipil sehingga menimbulkan kolaps-nya pengoperasian reaktor nuklir itu sendiri.

Desain proteksi guna mencegah terjadinya potensi serangan teror kemudian muncul. China sebagai negara berkekuatan nuklir telah merancang program pencegahan yang dinamakan DBA atau “design base accident”. DBA merupakan skenario pra maupun pasca serangan teror ke fasilitas nuklir guna mencegah menyebarnya radioaktif ataupun limbah nuklir sehingga mampu menekan jumlah korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan. Sebagai laiknya desain, DBA ini masih memiliki sejumlah kekurangan yaitu belum adanya tindakan serupa apabila terdapat serangan terror dalam bentuk serangan rudal atau roket ke fasilitas suplly daya ke reaktor. DBA belum pula mengantisipasi serangan dalam bentuk dijatuhkan-nya pesawat komersil ke fasilitas reaktor yang diakibatkan oleh pembajakan sebagaimana peristiwa 11/9 di Amerika Serikat. Serangan terror dalam bentuk demikian paling tidak merusak sistem pendingin reaktor sehingga mengakibatkan terlepasnya zat radioaktif melalui udara.

Improvisasi tingkat sekuritas pengelolaan fasilitas nuklir terhadap potensi serangan terror patut diperhatikan. Sebagai percontohan, China telah mengakomodasi “Convention on the Physical Protection of Nuclear Material” tahun 1980 beserta perubahannya pada tahun 2005. Sejak tahun 1999, China mengimplementasikan kewajibannya berdasarkan resolusi PBB/UNSC termasuk resolusi 1267, 1373, 1540 dan 1887. Keikutsertaan inipun berlanjut pada tahun  2010 ketika China meratifikasi “Internasional Convention for Suppression of Acts of Nuclear Terorism” yang kemudian ditindaklanjuti dengan menerbitkan regulasi-regulasi nasional. Langkah demikian telah menjadikan China menjadi negara berkekuatan nuklir pertama yang memiliki standar operasional prosedur terlengkap soal pengamanan fasilitas nuklir dari serangan teror.

Improvisasi tidak cukup hanya dengan memiliki regulasi guna mencegah ataupun menangkal aksi terror. Pencegahan aksi terror turut melibatkan pula negara-negara lain, seperti China yang telah bekerjasama dengan  Amerika Serikat. Kerjasama China-Amerika Serikat semakin intens termasuk dalam bentuk kunjungan ke fasilitas nuklir guna mengobservasi tingkat keamanan yang tersedia di fasilitas nuklir masing-masing negara. Lebih teknis, kerjasama ini pula diwujudkan dengan menyelenggarakan workshop ataupun pelatihan guna menemukan konsep ideal tentang perlindungan terhadap ancaman luar maupaun dalam, desain sistem proteksi fisik dan penguatan budaya pengamanan fasilitas nuklir. Selain Amerika Serikat, China juga mempererat kerjasama dengan lembaga atom internasional atau IAEA guna meningkatkan keamanan fasilitas nuklir utamanya sistem regulasi dan inspeksi.

 

Dampaknya terhadap Indonesia

Indonesia sebagai negara berkembang dan peduli terhadap isu global juga harus mengikuti perkembangan terkait teknologi nuklir walaupun Indonesia sendiri tidak memiliki ataupun memfungsikan reaktor nuklir sebagai sumber daya alternatif. Perkembangan potensi serangan teror terhadap fasilitas nuklir dan pencegahannya harus menjadi salah satu prioritas bagi Indonesia dalam pergaulan internasional. Meskipun serangan teror terhadap fasilitas nuklir di Indonesia adalah sesuatu yang mustahil, namun menjadi objek peledakan bom nuklir oleh para pelaku teror adalah sssuatu kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Indonesia memiliki hak untuk  memberikan semacam solusi atau alternatif kepada negara-negara bertenaga nuklir. Indonesia dapat mengadakan hubungan bilateral terhadap negara berkekuatan nuklir sehingga mampu memberikan solusi baik sifatnya preventif maupun represif. Pada tingkat regional Indonesia mampu berperan aktif bersama ASEAN guna memberikan desain yang tepat sehingga mampu menambah kualitas pengamanan terhadap potensi teror. Indonesia pun dapat lebih aktif lagi dengan saling bertukar data intelijen terakit potensi aksi teror ataupun kelompok-kelompok teror sebagai aksi pencegahan dini.

Ancaman teror nuklir yang menjadi pembicaraan dunia internasional diharapkan menjadi perhatian tersendiri bagi Indonesia. Perhatian yang nantinya mampu meningkatkan sistem proteksi sebagai aksi pencegahan dini. Selain persoalan kewenangan penangkapan ataupun penahanan, ancaman teror nuklir ini diharapkan pula menjadi masukan dalam rencana revisi undang-undang terorisme yang saat ini sedang gencar  diupayakan.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.